Dari Bengkel Rumah hingga Inovasi AI: Perjalanan Karier Qutubuddin Saifee di Broadcom

Kesuksesan seorang insinyur tidak selalu dimulai dari rencana yang matang. Terkadang, perjalanan besar berawal dari rasa ingin tahu yang sederhana. Hal inilah yang dialami oleh Qutubuddin “Qutub” Saifee, seorang Distinguished Engineer di Broadcom yang kini berkontribusi dalam berbagai teknologi canggih, mulai dari pemrosesan video, pengenalan gestur, deteksi pejalan kaki, hingga sistem pengenalan suara jarak jauh berbasis AI.

Kisah Qutub menjadi inspirasi bahwa ketekunan, rasa ingin tahu, dan pemahaman yang kuat terhadap dasar-dasar ilmu pengetahuan dapat membuka jalan menuju inovasi besar.

Awal Ketertarikan pada Dunia Teknik

Qutub tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan dunia teknik. Ayahnya adalah seorang insinyur listrik sekaligus penghobi yang sering mengerjakan berbagai proyek elektronik di rumah.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, sekitar kelas empat atau lima, Qutub mulai mencoba menggunakan berbagai alat yang ada di bengkel kecil milik ayahnya, seperti solder, obeng, dan berbagai komponen elektronik sederhana.

Tidak ada kelas formal atau kurikulum khusus. Ia hanya mencoba berbagai hal, bereksperimen, dan belajar dari hasil yang didapatkan.

Pengalaman sederhana tersebut ternyata menjadi fondasi penting yang membentuk pola pikirnya sebagai seorang insinyur hingga saat ini.

Berpegang pada Prinsip Dasar

Salah satu filosofi yang selalu dipegang oleh Qutub adalah pentingnya memahami prinsip-prinsip dasar suatu teknologi.

Menurutnya, banyak orang terlalu fokus pada tren teknologi terbaru tanpa benar-benar memahami fondasi yang mendasarinya.

Ia percaya bahwa ketika menghadapi masalah yang kompleks, solusi terbaik sering kali ditemukan dengan kembali kepada prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan dan matematika.

Pendekatan ini tidak hanya menghasilkan solusi yang lebih efektif, tetapi juga lebih hemat biaya dan lebih mudah diterapkan dalam dunia nyata.

Menempuh Pendidikan di IIT Bombay

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, Qutub berhasil masuk ke Indian Institute of Technology (IIT) Bombay, salah satu institusi teknik paling bergengsi di India.

Untuk masuk ke kampus tersebut, calon mahasiswa harus melewati proses seleksi yang sangat ketat dan kompetitif.

Ketertarikan Qutub terhadap matematika dan fisika, ditambah dukungan dari keluarga serta para gurunya, membantunya mencapai tujuan tersebut.

Ia mengambil program ganda di bidang teknik elektro yang kemudian berlanjut hingga jenjang doktoral atau PhD.

Di bawah bimbingan Profesor Vikram Gadre, Qutub menghabiskan hampir sepuluh tahun di IIT Bombay untuk memperdalam ilmu teknik dan penelitian.

Meneliti Sistem Pemrosesan Sinyal

Topik penelitian doktoralnya berfokus pada sistem pemrosesan sinyal tiga dimensi dengan berbagai tingkat sampling yang berbeda.

Meski terdengar rumit, konsep dasarnya cukup sederhana.

Misalnya, suara merupakan sinyal satu dimensi. Gambar memiliki dua dimensi, yaitu panjang dan lebar. Video menambahkan dimensi ketiga berupa waktu.

Masalah yang ingin dipecahkan Qutub adalah bagaimana berbagai sistem yang bekerja pada kecepatan pemrosesan berbeda dapat saling bertukar data tanpa kehilangan kualitas informasi.

Penelitian tersebut memang bersifat teoritis, tetapi melatihnya untuk berpikir secara mendalam dan sistematis dalam menyelesaikan masalah yang kompleks.

Bergabung dengan Broadcom

Pada tahun 2010, Qutub bergabung dengan Broadcom saat perusahaan tersebut sedang mengembangkan berbagai teknologi audio dan video generasi baru.

Tugas besar pertamanya adalah membantu mengaktifkan sistem kompresi video pada sebuah chip baru.

Saat proses pengujian awal dilakukan, sistem tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya. Data yang diterima chip tidak sesuai dengan format yang diharapkan.

Bersama timnya, Qutub menghabiskan hampir satu bulan penuh di laboratorium untuk melacak sumber masalah, menganalisis sinyal, dan memperbaiki kesalahan yang ditemukan.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga mengenai bagaimana menghadapi tantangan teknis di dunia industri.

Ketika Teknologi Suara Menjadi Tren

Awalnya, Qutub tidak pernah berencana menjadi ahli dalam teknologi pengenalan suara.

Namun, perkembangan teknologi membuat kebutuhan pasar berubah dengan cepat.

Jika sebelumnya pengguna mengoperasikan perangkat menggunakan remote control, kini mereka mulai menginginkan interaksi yang lebih alami melalui perintah suara.

Penyedia layanan televisi dan perangkat hiburan mulai meminta fitur pengenalan suara pada set-top box mereka.

Saat itu, platform Broadcom belum memiliki kemampuan tersebut.

Qutub dan timnya kemudian ditugaskan untuk mengembangkan teknologi pengenalan suara jarak jauh atau far-field voice yang mampu menangkap suara pengguna dari berbagai sudut ruangan.

Menciptakan Solusi yang Efisien

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan sistem suara adalah jumlah mikrofon yang digunakan.

Secara umum, semakin banyak mikrofon, semakin baik kualitas penangkapan suara.

Namun, penambahan mikrofon juga berarti peningkatan biaya produksi.

Alih-alih menggunakan banyak mikrofon, tim Qutub mencoba pendekatan yang lebih efisien.

Mereka merancang sistem yang hanya menggunakan dua mikrofon, tetapi tetap mampu memberikan performa yang memenuhi standar berbagai platform asisten suara terkenal.

Hasilnya sangat memuaskan.

Teknologi tersebut berhasil lolos berbagai pengujian dan kini digunakan pada perangkat set-top box berbasis Broadcom yang memungkinkan pengguna memberikan perintah suara dari jarak jauh dengan akurasi tinggi.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa solusi terbaik tidak selalu membutuhkan perangkat keras yang lebih banyak atau lebih mahal.

Pentingnya Ketekunan dan Kejujuran Intelektual

Dalam menghadapi berbagai tantangan teknis, Qutub sering mengutip salah satu pernyataan terkenal dari fisikawan Richard Feynman:

“Prinsip pertama adalah jangan menipu diri sendiri, karena diri sendiri adalah orang yang paling mudah ditipu.”

Bagi Qutub, hal ini berarti seorang insinyur harus selalu berpikir objektif dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya karena solusi tersebut terlihat mudah atau nyaman.

Menurutnya, dua kualitas terpenting bagi seorang insinyur adalah ketahanan mental (resilience) dan ketekunan (perseverance).

Tanpa kedua hal tersebut, sulit untuk menyelesaikan masalah yang kompleks dan menciptakan inovasi yang berdampak nyata.

Budaya Inovasi di Broadcom

Salah satu hal yang paling dihargai Qutub selama bekerja di Broadcom adalah kesempatan untuk belajar dari berbagai tim dan bidang teknologi yang berbeda.

Sering kali sebuah inovasi yang awalnya dikembangkan untuk satu produk dapat dimanfaatkan oleh tim lain dan menghasilkan solusi baru yang lebih besar.

Kolaborasi semacam ini menciptakan lingkungan kerja yang dinamis dan mendorong lahirnya berbagai inovasi.

Menurut Qutub, budaya tersebut memungkinkan para insinyur untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan teknologi yang selalu berubah.

Kesimpulan

Perjalanan Qutubuddin Saifee menunjukkan bahwa inovasi besar sering kali berawal dari rasa ingin tahu yang sederhana dan pemahaman yang kuat terhadap prinsip-prinsip dasar.

Dari bengkel kecil milik ayahnya hingga menjadi Distinguished Engineer di Broadcom, ia membuktikan bahwa ketekunan, kemampuan belajar, dan keberanian menghadapi tantangan merupakan kunci utama dalam membangun karier di dunia teknologi.

Pesan yang selalu ia sampaikan kepada para insinyur muda sangat sederhana namun relevan: “Beradaptasi, berkembang, dan berprestasi.” Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, prinsip tersebut menjadi bekal penting untuk terus maju dan menciptakan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi dunia.

broadcom Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi broadcom.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.